NIKMAT ALLAH SWT
Seharusnya kita ingat bahwa nikmat Allah SWT terlalu banyak. Sekiranya
kita hilang sesuatu nikmat yang Allah SWT pinjamkan ada banyak lagi
nikmat Allah SWT di alam ini.
Artinya : “Dan dia Telah memberikan
kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan
jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (Q.S. Ibrahim : 34)
BERSYUKUR
Sebagai manusia kita perlu bersyukur akan nikmat yang kita kecapi
selama ini dan akan datang karena Allah SWT menjanjikan untuk
menambahkan lagi nikmat-Nya. Namun, jika kufur, kita akan menerima azab
yang pedih.
Artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka
Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S. Ibrahim : 7)
TIDAK PUTUS ASA
Jangan kita mudah putus asa dalam melakukan sesuatu kebaikan karena
Allah SWT mengizinkan kita mengubah kehidupan jika kita terus berusaha.
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan
apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada
yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
selain Dia”
(Q.S. Ar-Ra’d : 11)
KEJADIAN ALLAH SWT TIDAK SIA-SIA
Sesuatu perkara yang kita tidak suka atau tidak sanggup menanggungnya
merupakan perkara yang terbaik untuk kita karena setiap perkara Allah
SWT tentukan adalah tidak sia-sia.
Artinya : “Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak Mengetahui”
(Q.S. Al-Baqarah : 216)
BERSAMA ORANG BERIMAN
Selagi kita berada dalam kelompok orang yang beriman, maka kita tetap
mendapat pengiktirafan yang tinggi daripada Allah SWT. Biarpun manusia
memandang rendah kepada kita.
Artinya : “Janganlah kamu bersikap
lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman”
(Q.S. Al-Imran : 139)
RAHMAT ALLAH SWT SENANTIASA ADA
Rahmat Allah SWT sentiasa ada di setiap masa dan di mana sahaja untuk kita. Dia tidak suka kita berputus asa.
Artinya : “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, Sesungguhnya
tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (Q.S.
Yusuf : 87)
ALLAH SWT TAHU KEMAMPUAN KITA
Suatu perkara yang kita tanggung sebenarnya mengikut kemampuan kita. Allah SWT maha mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya.
Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya
dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka
berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau
kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami
beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum
kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak
sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan
rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap
kaum yang kafir"
(Q.S. Al-Baqarah : 286)
KESENANGAN DI SEBALIK MUSIBAH
Tidak usah bimbang apabila ditimpa musibah karena dibalik musibah itu
ada hikmah dan mungkin nikmat yang lebih banyak bakal kita capai.
Artinya : “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
(Q.S. Al-Insyirah : 5-6)
PENAWAR BAGI UJIAN
Allah SWT menyukai orang yang sabar dan menjaga shalatnya. Dua amalan
ini merupakan perawat yang paling mujarab jika kita ditimpa ujian.
Artinya : “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"
(Q.S. Al-Baqarah : 155-156)
TAUBAT SEGERA
Jika kita melakukan kesalahan, jangan ditunggu-tunggu lagi.
Bersegeralah memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT kerana Dia
Maha Pengampun.
Artinya : “Sesungguhnya Taubat di sisi Allah
hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran
kejahilan, yang Kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka
Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi
Maha Bijaksana. Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang
yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada
seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya
bertaubat sekarang". dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang
mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu Telah kami
sediakan siksa yang pedih”
(Q.S. An-Nisa : 17-18)
TAKWA ADALAH PENYELAMAT
Dalam setiap perkara atau situasi yang kita alami hendaklah kita bertakwa kepada Allah SWT karena ia akan menyelamatkan kita.
Artinya : “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan
mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah
mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”
(Q.S. Ath-Thalaq : 2-3)
Semoga bermanfaat bagi kita semua dalam memotivasi diri dalam kehidupan. Amin
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 Juli 2013
AYAT-AYAT MOTIVASI DALAM AL-QUR'AN
Diposting oleh Ubhe Sintika di 23.11 0 komentar
MANUSIA BERTANYA, AL-QUR'AN MENJAWAB
- Manusia bertanya : Bolehkah aku frustrasi?
- AL-QUR'AN menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. ( Ali Imran : 139 )
- Manusia bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
- AL-QUR'AN menjawab : ALLAH tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ( Al-Baqarah : 286 )
- Manusia bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik?
- AL-QUR'AN menjawab : Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ( Al-Baqarah : 216 )
- Manusia bertanya : Kenapa aku diuji?
- AL-QUR'AN menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ? ( Al-Ankabuut : 2 ). Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. ( Al-Ankabuut:3)
- Manusia bertanya : Bolehkah aku berputus asa?
- AL-QUR'AN menjawab : Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. ( Yusuf : 87 )
- Manusia bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
- AL-QUR'AN menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada ALLAH supaya kamu beruntung. ( Ali Imraan : 200 )
- Manusia bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
- AL-QUR'AN menjawab : Cukuplah ALLAH bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakal. ( At-Taubah : 129 )
- Manusia bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
- AL-QUR'AN menjawab : Sesungguhnya ALLAH telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. ( At-Taubah : 111 )
Maha Benar ALLAH Dengan Segala Firman-NYA...
Diposting oleh Ubhe Sintika di 23.03 0 komentar
Cara Agar Doa Dikabulkan
Kita kerap kali merasa bahwa apa yang kita miliki
merupakan hasil kerja keras kita semata.
Kita sering kali lupa bahwa Allah Maha Segalanya, Maha Kaya, Maha Kuasa, Maha
Pemberi Rezeki, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan sebagainya. Tanpa izin dan
kasih sayang Allah, apa yang kita upayakan tidak akan membawa hasil betapapun
kita telah berusaha sangat keras.
Kealpaan untuk menginsyafi bahwa Allah adalah Maha
Pengatur dan manusia hanyalah makhluk tiada daya inilah yang membuat kita lupa
untuk bersyukur ketika mendapat nikmat dan tidak ingat untuk bersabar ketika
mencapatkan ujian.
Kita lupa berdoa untuk mengagungkan Allah atas seluruh
nikmat-Nya. Kita juga lupa berdoa memohon pertolongan kala mendapatkan cobaan.
Berbicara tentang doa yang kerap kita lupa adalah doa
minta rezeki. Dalam mendapatkan rezeki, kita lebih mempercayakannya pada kerja
keras kita. Jika dalam kesempitan, kita memilih menggantungkan harapan akan
bantuan dari sesama manusia.
Padahal, sekali lagi Allah adalah Maha Kaya dan
Maha Pemberi rezeki. Maka, marilah selalu mengawali, mengiringi, dan mengakhiri
setiap upaya kita, termasuk ikhtiar menjemput rezeki, dengan segenap doa.
Mari kita panjatkan doa minta rezeki dalam keadaan
rezeki lapang atau sempit.
Doa akan membentengi kita dari menempuh cara-cara yang
buruk dalam mencari rezeki, seperti berbuat curang, mengambil hak orang lain,
menyuap, korupsi, atau meminta bantuan kepada jin melalui perantaraan manusia.
Doa minta rezeki juga akan membuat kita senantiasa
bersyukur ketika mendapatkan limpahan rezeki dan tetap bersabar ketika kita diuji
dengan kesempitan rezeki.
Sebelumnya ada gambaran yang harus kalian baca
terlebih dahulu sebelum saya masuk ke intinya.
- Kalau Anda sakit, Anda datangnya kemana? Tentunya ke rumah sakit. betul ? Sampai disana, Anda balik ditanya oleh dokter. “Bapak atau Ibu sakitnya apa?”. Berarti Anda datang pada orang yang tahu. Betul?
- Kalau Motor Anda atau Mobil Anda rusak, Anda datangnya kemana? Tentunya ke bengkel. Betul? Sampai disana, Anda balik ditanya lagi oleh tukang bengkelnya. “Yang mana pak yang rusak?”. Berarti Anda datang pada orang yang tahu. Betul?
- Terakhir. Kalau motor Anda pecah ban. Anda datangnya kemana? Tentunya ke tukang tambal ban. Sampai disana, Anda langsung bercengkrama, sampai akrabnya kalian ngobrol hingga mendapatkan gratis untuk jasa ini oleh tukang tambal bannya.
Nah ini lah perumpamaannya, Allah gak dikasih tahu aja
Dia udah tahu permasalahan kita, udah tahu apa yang kita inginkan, udah tahu
apa yang kita harapkan. Pertanyaannya sekarang, “Mengapa Allah tidak memberikan
apa yang kita harapkan? Mengapa Allah tidak mengabulkan doa yang kita haturkan
padahal Dia udah tahu apa yang akan kita minta kepadanya.
Sebagaimana seluruh doa, agar doa minta rezeki yang
kita panjatkan dikabulkan oleh Allah, ada hal-hal yang mesti kita perhatikan
dengan baik, antara lain sebagai berikut.
- Selalu mengiringi dengan ikhtiar
- Memperhatikan kehalalan makanan dan pakaian
Agar doa
minta rezeki yang kita panjatkan dikabulkan Allah, kita harus selalu menjaga
kehalalan makanan dan pakaian kita. Selain halal, makanan dan pakaian kita pun
harus baik.
- Berdoa dengan ikhlas
- Bukan doa yang berisi keburukan
Doa yang
kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah jika bukan doa yang berisi keburukan.
Doa yang berisi keburukan, misalnya doa agar perbuatan buruk atau kecurangan
dalam mencari rezeki dikabulkan.
Atau, doa
agar orang lain tertimpa keburukan sehingga kita bisa mengambil keuntungan.
- Tidak tergesa-gesa ingin segera dikabulkan
Dalam
berdoa, kita harus senantiasa sabar menunggu doa kita terkabul. Kita tidak
boleh mengharapkan semua doa kita langsung terkabul dan jika tidak segera terkabul,
kita marah atau bosan dan enggan berdoa lagi.
Sikap
seperti ini justru akan menghalangi terkabulnya doa. Kita harus yakin bahwa
semua doa yang baik pasti dikabulkan, bisa segera, ditunda waktunya, atau
diganti dengan yang lebih baik.
- Berdoa dengan sungguh-sungguh
Adakalanya
kita berdoa tanpa kesungguhan. Doa kita berhenti di lisan belaka. Tanpa
kesungguhan, pengharapan, dan keyakinan. Bagaimana doa kita akan terkabul jika
kita tidak sungguh-sungguh meminta dan tidak yakin akan terkabulkan?
- Berdoa di waktu-waktu yang utama
Waktu-waktu
yang utama untuk, antara lain sepertiga malam terakhir, pada waktu berbuka
puasa, usai shalat fardhu, pada hari Jumat, antara adzan dan iqomah, dan saat
sujud dalam shalat.
Sesungguhnya rezeki itu amat luas. Tidak sebatas uang
atau harta. Keluarga yang bahagia, kesehatan, teman dan tetangga yang baik, dan
anak-anak yang saleh, juga merupakan rezeki yang harus kita syukuri dan selalu
kita mintakan kepada Allah ketika kita memanjatkan doa minta rezeki.
Semoga dengan begini Doa kita akan dikabulkan oleh Allah SWT Amiiin...
Semoga dengan begini Doa kita akan dikabulkan oleh Allah SWT Amiiin...
Diposting oleh Ubhe Sintika di 05.48 0 komentar
Rabu, 26 Desember 2012
PERAN KELUARGA
Terkadang dalam kehidupan sehari hari, para suami suka merendahkan peran istri dalam rumah tangga. Padahal pada
kenyataannya istri sangat berperan, bahkan boleh dibilang lebih banyak peran
yang dimainkan seorang istri dibandingkan suami. Coba kita bayangkan, mulai
dari tugas rutin seperti mengurus rumah, anak, melayani kebutuhan suami dan tak
jarang tugas yang semestinya dijalankan seorang suami dalam mencari nafkah juga
dikerjakan oleh istri.
Meski demikian, sekali lagi dalam kenyataannya peran yang demikian itu
oleh sebagian suami kurang dihargai. Masih saja suami menuntut lebih, seolah
tak mau tahu dengan kondisi fisik yang dialami sang istri karena lelahnya dalam
menjalankan tugas rumahnya. Seperti misalnya ketika suami pulang larut malam,
istri terlelap tidur sehingga tidak mendengar suami memintanya membuka pintu,
lalu suami marah besar karena hal tersebut, atau saat pagi hari karena sibuk
mengurusi keperluan anak sampai lupa membuatkan kopi atau sarapan untuk suami,
sehingga tak jarang terjadilah kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT ) yang
berujung pada perceraian dengan alasan karena tidak ada kecocokan. Ada kalanya perlakuan kasar
terhadap istri dengan alasan karena istri tidak patuh, tidak melayani suami
dengan baik dll, alasan yang dijadikan senjata oleh suami.
Padahal dalam islam penghargaan suami terhadap peran istri menjadi tolak
ukur dalam hal keimanan seorang muslim, sebagaimana yang di sabdakan oleh Rasullullah SAW dalam salah
satu hadistnya, dari Abul Hasan Al-Fira, dari Muhammad bin Ghalib Al-Baghdadi, dari Al-
Hasan bin Ali, dari Al- Fadhl bin Sahl, dari Ibnu Atikah, dari Anas bin Malik RA
, ia berkata: “Rasulullah SAW ditanya, Siapakah orang mukmin yang paling sempurna imannya?,
Beliau bersabda, Yang paling baik akhlaknya kepada keluarganya,”. Lalu siapa
contoh yang dapat ditiru dalam hal hubungan suami istri yang paling baik kalau
bukan Rasullullah Muhammad SAW.
Dalam suatu riwayat dikisahkan, tatkala beliau pulang dan istrinya tidak
membukakan pintu, beliau rela tidur diteras rumah, sampai pada pagi harinya
saat membuka pintu sang istri kaget melihat baginda Rasul tidur diluar tanpa alas.
Apa yang dikatakan beliau pada sang istri, bukannya caci maki tapi kata-kata maaf nan lemah
lembutlah yang keluar dari bibirnya, bahwa dia tidak ingin mengganggu istirahat istrinya. Atau ketika bajunya
sobek beliaupun rela menjahitnya sendiri tanpa minta di bantu istrinya. Bahkan
panggilan kesayangan kerap keluar dari bibir beliau saat memanggil istri-istrinya.
Subhanallah… Seorang sahabat, Umar RA pun mencontohkan kepada kita tentang
bagaimana kita harus memperlakukan istri sebagai teman dan pendamping hidup.
Suatu ketika ada seorang yang ingin mengadukan perihal keadaan istrinya. Saat sampai di
rumah khalifah dia mendengar Ummu Kalsum sedang bertengkar dengannya. Orang
itupun lalu berkata “saya ingin mengadukan tentang kelancangan istriku
kepadaku, akan tetapi karena mendengar hal serupa dalam rumah tanggamu, maka
saya kembali”, Umar berkata “Kita harus memaafkannya, karena ia mempunyai hak
yang harus kita laksanakan. Pertama,
Ia merupakan penghalang bagiku dari api neraka, dimana hatiku merasa tenteram
dan jauh dari hal yang haram. Kedua,
ia menjadi penjaga rumah ketika aku pergi dan ia pula yang menjaga hartaku, Ketiga, ia menjadi tukang cuci
pakaiannku. Keempat, ia
menjadi ibu bagi anak-anakku. Kelima,
ia menjadi tukang masak makananku. ”Lalu orang itu berkata “istriku juga begitu, maka apa yang engkau
maafkan atasnya saya juga memaafkannya.”
Lalu apa saja kewajiban suami terhadap istri?, Abu Laits As-Samarkandi mengatakan,
ada Lima hal hak istri yang harus ditunaikan oleh suami :
1.
Suami tidak membiarkan
istrinya keluar rumah tanpa ada hal penting, karena istri merupakan aurat dan
keluarnya dihadapan orang banyak menyebabkan dosa dan merusak kesopanan.
2.
Suami harus mengajarkan ilmu
agama, terutama ilmu dalam beribadah yang wajib seperti cara berwudhu, sholat,
puasa dan lainnya.
3.
Memberikannya makanan yang
halal, karena makanan yang haram akan menjadikan daging yang tumbuh karenanya
menjadi bahan bakar api neraka. Memberikannya pun akan diganjar pahala oleh Allah
SWT, Rasullulah Muhammad SAW bersabda, “Dinar itu ada empat macam, yakni yang
kamu nafkahkan di jalan Allah, dinar yang kamu berikan untuk orang miskin,
dinar yang kamu belanjakan untuk memerdekakan budak, dan dinar yang kamu
nafkahkan untuk keluargamu. Yang paling banyak pahalanya adalah dinar yang kamu
belanjakan untuk keluargamu .”
4.
Tidak boleh menganiayanya,
karena istri adalah amanat baginya. Dari Abu Hurairah RA, Rasullullah SAW bersabda, “Barang siapa mengawini
seorang perempuan dengan mas kawin yang telah ditentukan, sedangkan ia berniat
untuk tidak memenuhinya maka ia berbuat zina dan barangsiapa yang mempunyai
hutang sedangkan ia berniat untuk tidak mengembalikannya maka ia adalah
pencuri.” Dari Abul Qasim Asy-Syananadzi dengan sanad dari Al-Hasan Al-Bashri dari
Rasullullah SAW, ”Berpesan pesanlah yang baik dengan para istri karena sesungguhnya mereka
tidak memiliki apa-apa atas diri mereka sendiri di sisimu, dan sesungguhnya
kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu menghalalkan kemaluan mereka
dengan kalimat Allah SWT.”
5.
Bila timbul perasaan yang
tidak baik, hendaklah bersabar dan anggaplah sebagai peringatan baginya, jangan
sampai terjadi yang lebih berbahaya dari yang telah terjadi. Yang paling
penting dan harus selalu di ingat oleh para suami adalah bahwa mereka adalah
pemimpin dalam rumah tangga, suatu saat apa yang dilakukan terhadap istri
mereka di dunia kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
Dari Al-Hakim Abul-Hasan As-Sardiri, dari Abu Ahmad Al-Hawani, dari Al-Abbas bin
Muhammad, dari Yahya bin Muin, dari Abu Hafsin Al-Abar, dari Hajadah, dari Athiyah Al-Aufi,
dari Ibnu Umar RA, Rasululah Muhammad SAW bersabda: “Masing-masing dari kalian adalah pemimpin
dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang imam yang diikuti oleh orang
banyak adalah pemimpin dan akan ditanya kepemimpinannya. Seorang laki-laki
(suami) adalah pemimpin atas penghuni rumahnya dan ia akan ditanya tentang
kepemimpinannya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam harta tuannya dan ia akan
ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah
suaminya dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Ingatlah masing-masing
dari kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.”
Diposting oleh Ubhe Sintika di 17.36 0 komentar
Minggu, 29 Juli 2012
MAAFKANLAH
Sebagai insan yang tercipta dari debu ini, kita selalu saja dapat berbuat kesalahan. Lalu, untuk apa sebetulnya kesalahan yang pernah kita buat ini? Pastinya ia terjadi sebagai bahan introspeksi diri, sebagai perenungan diri hingga kita dapat memperbaiki diri. Ia terjadi agar kita bisa mengelola batin kita untuk berdamai dengan diri kita sendiri maupun orang lain.
Dengan meminta maaf. Ya, dengan meminta maaf jika kesalahan datang dari diri kita. Nah, jika begitu, apakah kita harus menunggu menjadi takdir kita terlebih dahulu untuk sekadar bisa meminta maaf?
Kemudian saat kita menerima permintaan maaf dari sesama kita. Sebesar apa pun kesalahan dari sesama kita. Apakah kita juga harus menunggu takdir terlebih dahulu hanya untuk sekadar memberi maaf untuk sesama kita yang telah bersalah kepada kita?
Taruhlah, bahwa kita telah difitnah, dikecewakan, disakiti, dan banyak lagi bentuk ‘di’ lainnya. Sanggupkah kita memberi maaf?
Kerendahan hati, ketulusan, dan kebijaksanaan adalah kuncinya. Bila kita mau rendah hati maka kita akan selalu berani untuk meminta maaf dan memberi maaf.
Memang butuh proses. Meminta maaf dan memberi maaf dibutuhkan keberanian. Tetapi, jangan biarkan proses itu menjadi lama, karena keegoan kita. Jangan biarkan keberanian kita untuk meminta maaf atau memberi maaf menjadi kian sirna dari diri kita. Jadikanlah hati kita menjadi laut, yang sanggup menampung apa saja dari sungai-sungai yang bermuara pada laut itu. Jadilah seperti bunga teratai yang selalu mau menjadi filter bagi air kolam dengan menjernihkannya selalu.
Jadilah seperti embun pagi yang selalu memberi kesejukan bagi setiap orang. Siapa pun dia! Tak terkecuali bagi orang yang telah bersalah kepada kita. Sebab, embun pagi datang bukan untuk orang-orang benar saja. Melainkan bagi semua orang tanpa pandang bulu.
Sebab, saat kita meminta maaf adalah saat-saat sejuk dan teduh bagi batin kita, juga sesama kita. Demikian pula saat kita sanggup memberi maaf. Kita bagaikan bening dari segala kesejukan yang pernah ada di muka bumi ini!
Urusan kita di sini hanyalah meminta maaf dengan penuh ketulusan jika kita bersalah, dan memberi maaf dengan setulusnya saat kita menerima permintaan maaf dari orang lain. Selebihnya biarkan itu menjadi urusan Tuhan Sang Maha Pemurah. Dari sanalah, kualitas batin kita akan tertempa menjadi sesuatu yang mulia. Sebening embun pagi yang selalu menyatakan cintanya pada bumi, pada setiap harinya tanpa terlewatkan. Berani meluruhkan ego kita yang seluas dan setinggi langit hingga ke akar rumput, demi kedamaian dan kebahagiaan batin kita.
Maka, beranikah kita untuk bahagia saat ini juga?
MAAFKANLAH AKU…!!!
Diposting oleh Ubhe Sintika di 00.31 0 komentar
Selasa, 24 Juli 2012
ASH-SHABR (AKHLAK SABAR)
Sabar dalam Islam berarti :
- Iman kepada taqdir Allah. Ini adalah dasar dan landasan utama akhlak sabar dalam Islam. Oleh karena itu, hanya orang berimanlah yang memiliki kesabaran yang benar.
- Tawakkal dan berserah diri kepada Allah dalam segala urusan yang dihadapi. Maka tidak ada sabar yang tanpa tawakkal.
- Berharap pada rahmat dan karunia Allah (rajaa’). Ini juga merupakan salah syarat akhlaq sabar dalam Islam. Sehingga tidak disebut sabar (dalam konsep akhlak Islam) jika tidak disertai dengan sikap berharap pada Allah.
- Istiqamah dan tetap teguh diatas jalan kebenaran. Dan ini merupakan bukti sekaligus buah akhlak sabar.
- Kesiapan berkorban dengan segala yang dimiliki. Ini juga salah satu konsekuansi akhlaq sabar. Sehingga tidak ada kesabaran yang tanpa kesiapan untuk berkorban.
- Ber-mujahadah (mengerahkan segala daya dan potensi yang dimiliki) dalam usaha dan ikhtiar. Jadi sabar dalam Islam itu tidak sama dengan sikap nerimo dan menyerah secara pasif dan negatif tanpa disertai usaha dan ikhtiar. Tapi sabar islami adalah sabar yang positif, dinamis dan proaktif.
Urgunsi
- Akhlak sabar adalah pasangan dan bukti iman, khususnya iman kepada taqdir Allah. Dalam sebuah hadits (yang arinya): “Sungguh menakjubkan keadaan orang beriman itu. Karena segala keadaannya serba baik baginya, dan itu hanya dimiliki oleh orang beriman saja: jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu adalah yang terbaik baginya, dan jika menerima kesusahan, ia bersabar, dan itupun yang terbaik baginya” (HR. Muslim).
- Sabar merupakan salah satu sarana, solusi dan jalan keluar terbaik dalam menghadapi berbagai persoalan, problematika, tantangan, ujian, cobaan dan semacamnya. Oleh karena itu kita diperintahkan meminta tolong melalui sarana sabar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) melalui sarana sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah [2]: 153; juga lihat ayat 45-nya).
- Sabar merupakan salah satu akhlaq utama para rasul ulul ‘azmi ‘alaihimussalam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Maka bersabarlah kamu sebagaimana ulul ‘azmi di kalangan para rasul itu bersabar…” (QS. Al-Ahqaaf [46]: 35; lihat juga QS. Ali ‘Imraan [3]: 186, Luqmaan [31]: 17, dan Asy-Syuuraa [42]: 43).
- Besar dan beragamnya pahala serta balasan bagi orang-orang yang bersabar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan sungguh akan Kami berikan ujian dan cobaan kepada kamu sekalian, berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kehilangan sebagian harta, sebagian jiwa, dan sebagian buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah [2]: 155). Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): ”…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar sajalah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar [39]: 10).
- Sifat sabar adalah salah satu karunia Allah yang paling baik dan istimewa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “…Dan tidak ada karunia yang diberikan kepada seseorang, yang lebih baik dan lebih luas manfaatnya dari pada karunia sifat sabar” (HR. Muttafaq ‘alaih).
- Akhlak sabar adalah salah satu faktor dan sarana penghapus dosa yang paling utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “ Ujian akan senantiasa terjadi pada orang beriman, laki-laki dan perempuan, baik pada dirinya, anaknya maupun hartanya, sampai nanti ia menghadap Allah Ta’ala dengan tanpa membawa dosa lagi” (HR. At-Tirmidzi).
- Sifat sabar juga merupakan salah satu faktor dan sarana paling istimewa untuk menggapai derajat setinggi-tingginya disisi Allah Ta’ala.
- Bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah Allah adalah salah satu tanda kecintaan Allah pada seorang hamba, dan indikasi kebaikan yang Allah kehendaki baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “…dan sungguh jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka (untuk menguji kesabaran mereka), …” (HR. At-Tirmidzi). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya): “ Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan memberikan musibah kepadanya” (HR. Al-Bukhari).
- Akhlak dan sifat sabar merupakan salah satu karakteristik utama yang dimiliki oleh seorang mukmin yang berkepribadian stabil dan dewasa.
Klasifikasi
Ada beberapa bentuk kesabaran, antara lain:
- Sabar dalam menjaga keimanan dan melakukan berbagai ketaatan, karena keimanan dan ketaatan sangat identik dengan ujian. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan (saja) menyatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak akan diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka (dengan ujian itu) Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur (dalam keimanan mereka), dan Dia juga benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-‘Ankabuut [29]: 2-3;lihat.QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3).
- Sabar dalam menghindarkan diri dari bermacam kemaksiatan. Dan untuk menghindari kemaksiatan membutuhkan kesabaran khusus, terutama pada saat berbagai bentuk dan tingkat kemaksiatan merata di tengah-tengah kehidupan.
- Sabar dalam menghadapi beragam ujian, cobaan dan musibah kehidupan. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu semua, siapa diantara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk [67]: 2).
- Sabar dalam menghadapi berupa-rupa ujian dan cobaan di jalan dakwah dan jihad dalam memperjuangkan kalimatullah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan sungguh telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka bersabar terhadap pendustaan dan gangguan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketentuan-ketentuan) Allah. Dan sungguh telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu” (QS. Al-An’aam [6]: 34).
Atau kesabaran juga bisa kita klasifikasikan sebagai berikut:
- Sabar dalam menghadapi faktor-faktor penyebab rasa sedih dan susah.
- Sabar dalam menghadapi faktor-faktor penyebab rasa marah.
- Sabar dalam menghadapi faktor-faktor penyebab rasa sakit.
- Sabar dalam menghadapi faktor-faktor penggoda hawa nafsu (syahwat).
- Sabar dalam menghadapi faktor-faktor penyesat aqidah (syubhat).
- Sabar dalam menghadapi faktor-faktor pelalai (ujian kesenangan). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “… Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan (kesenangan) sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)…” (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 35).
Oleh Ahmad Mudzoffar Jufri, MA
Diposting oleh Ubhe Sintika di 02.43 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)

