SELAMAT DATANG DI BLOG PADEPOKAN UBHE SINTIKA
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

GORESAN HATIKU UNTUK ISTRIKU TERSAYANG

Sayangku…


Ingatlah pada tanggal 21 Januari 2008. Saat aku beserta saudaraku datang kerumahmu. Aku terharu, Aku tak kuasa menahan rasa bahagia saat itu, saat engkau menerima lamaranku. Kemudian dengan penantian panjang dan melelahkan yg membuat aku semangat terus, mengadukan nasib pada illahi rabbi dan berdoa seraya berkata kapan masa pernikahan itu akan hadir.

Akhirnya waktu yg di tunggu-tunggu datang juga, yaitu pada tanggal 26 Juni 2008 merupakan langkah awal kehidupan baru kita dalam membangun rumah tangga, hanya dengan pondasi tekad dan niat baik kita dalam berkeluarga.

Sayangku…

Aku sangat bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas dipilihnya engkau sebagai pendampingku atas dipilihnya engkau sebagai istriku. Aku juga bersyukur bahwa Allah telah mempertemukan aku dengan mu untuk menjalani sisa kehidupan ini bersamamu.

Pertama kali kita ketemu, aku adalah orang asing bagimu, dan engkau adalah orang asing bagiku. Kalau bukan karena mengharap ridha Allah atas pernikahan ini, tentu engkau akan memilih orang dekat yg engkau ketahui latar belakangnya, atas segala nikmat yg tercurah kepadamu maka engkau memilih aku sebagai suamimu meskipun aku sangat asing bagimu, yang tak di kenal bentuk, rupa dan nama sebelumnya, ( teu hir wa lahir cek sunda na mah).

Sayangku…

Engkau merupakan sebagai tempat pelipur lara, sebagai tempat berkasih sayang, sebagai tempat berkeluh kesah, sebagai tongkat penunjuk jalan, sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun dikala dahaga, sebagai tempat berteduh dikala panas, sebagai selimut dikala dingin, sebagai peredam duka dikala emosi, sebagai tempat berpangku mesra dikala gundah gulana dan sebagai tempat mengadu dikala ragu dan buntu.

Aku menyadari siapa diriku, maka aku tak ingin meminta lebih kepadamu. Aku hanya ingin engkau seperti apa adanya, yg menangis dikala sedih, yg marah dikala terluka dan tersenyum dikala bahagia. Aku tidak menginginkan engkau sesempurna istri sang nabi, sebab aku sadar bahwa aku pun tidak sesempurna beliau. Yang aku inginkan adalah bahwa kita saling menjaga agar bisa meneladani sikap mereka.

Sayangku…

Aku dan engkau akan tahu, kita akan menghadapi masa-masa yang akan datang bersama-sama, masa yang kadang indah untuk dikenang, atau pahit untuk diingat. Semua tergantung seberapa besar hati ini mau melapangkan jalan untuk menerima apapun kondisi itu. Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka sudut-sudut yang lain isilah dengan rabb pencipta alam semesta.

Jangan kau isi semua sudut hatimu dengan diriku atau dengan yang lain kecuali Tuhan mu, sebab aku tidak akan sanggup menjagamu bahkan menjaga hatimu, hanya Allah lah yang bisa menjagamu, menjaga hati dan jiwamu, menjaga fisik dan ragamu. Kamu mungkin bisa melupakan aku jika aku berbuat kesalahan, kamu bisa saja membuang sudut hati tempatku berpijak dan mengganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginanmu, tapi engkau tidak akan bisa melupakan rabb pemilik hatimu. Dan aku lebih nyaman jika hatimu dikuasai oleh pemilik alam semesta, ketimbang dikuasai oleh aku atau apapun itu. Insya Allah kita akan menjalani tahap-tahap usia pernikahan kita,

Sayangku…

Pada tahun pertama perkawinan kita, aku dan kau telah memahami lebih dalam perbedaan-perbedaan antara kita, sebab kita adalah dua orang asing yang harus mengayuh perahu bersama, jika kita tidak bisa bekerja sama, aku khawatir perahu ini tenggelam ketika baru saja kita meninggalkan daratan.

Masa-masa yg menggetarkan jiwa, menyenangkan hati dan membuat orang normal seperti orang kekurang akal, masa yang hakikatnya seperti berjalan diatas titian besi panas hingga mampu menjerumuskan mereka yg tidak sabar akan datangnya masa bahagia itu. Tibanya masa itu merupakan rahmat yg tiada tara bagi para hamba yang bersyukur, yang menyadari bahwa pernikahan itu adalah sebuah perjuangan dan bukanlah sebuah permainan.

Sayangku…

Pada tahun kedua, saat itu tanggal 5 Juli 2009 anak pertama kita lahir dan tanggung jawab kita sebagai orangtua baru dimulai. Pada saat itu kehidupan kita masih prihatin. Tapi dengan adanya anak kita yang lucu mampu menghapus semua duka lara, letih dan lelah serta rasa capek dan lelah karena tugas kita.

Sayangku…

Pada tahun ketiga dan keempat, saat itu aku memberanikan diri

Jika engkau mengharap harta dariku, ketahuilah aku hanyalah seorang suami biasa, yg penghasilannya dapat engkau lihat sendiri. Aku juga bukan pengusaha yg mungkin bisa mewujudkan semua impianmu dengan uang. Tapi jika engkau berpendapat bahwa harta dapat membawa kita kepada syurga, atau kefakiran bisa membawa kepada kekufuran, aku setuju dengan mu. Tapi aku bukanlah Abdurrahman bin auf, atau Abu bakar shiddiq atau ustman bin affan, yg dengan hartanya bisa membawa mereka ke pintu syurga. Aku mungkin hanya bisa menjadi Abudzar al giffari, yg hidup dalam kesendirian dan mati dalam kesendirian. Hanya iman yg ia bawa dan istri yg setia yg menemani pada saat-saat terakhirnya.

Justru dengan keberkahan yg insya Allah hadir bersamamu, kita bisa bersama-sama mengumpulkan harta sebagai bekal untuk akhirat kita. Justru dengan pernikahan ini semoga Allah membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yg kita tidak sangka-sangka.

Sayangku…

Aku berpesan kepadamu,

Pada tahun kelima hingga kesepuluh, mungkin kita akan didera oleh kondisi keuangan karena saat itu kebutuhan kita akan meningkat, anak beranjak ke sekolah dan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Aku memohon kepadamu, bantu aku dengan doa-doamu, dengan dhuha dan tahajudmu dengan zikir dan shodaqohmu, semoga masa-masa sulit segera pergi hingga Allah memenuhi janjinya kepada kita.
Pada tahun kesepuluh hingga keduapuluh, mungkin Allah telah mengalirkan rezeki yang deras kepada kita, kehidupan mulai mapan, kesejahteraan mulai datang, dan anak mulai dewasa. Aku memohon kepadamu, bantu aku menguatkan batin dan jiwaku agar aku tidak terperosok kedalam jurang kenistaan, karena godaan dunia berupa harta tahta dan wanita. Sadarkan aku tentang umur dan usiaku yang mulai menua juga temperamenku yang mulai meninggi dimakan usia. Bantu aku bersahabat dengan anak-anak kita, berikan mereka pengertian tentang arti kehidupan sesungguhnya, karena sebentar lagi mereka akan memilih jalannya masing-masing.

Pada tahun ketigapuluh dan sesudahnya, aku tak tahu apakah kita akan sampai disitu, yang jelas kita akan kembali berdua, anak-anak lelaki kita akan pergi dan anak perempuan akan mengikuti suaminya. Kita hanyalah sepasang manusia renta yang tak bisa melawan takdirnya. Kuingin saat itu, hari-hari kita hanya dipenuhi zikir dan tasbih, dipenuhi munajat dan doa, seraya menunggu utusan Tuhan datang menjemput.
Aku ingin engkau dan aku tetap menjadi pasangan didunia dan akhirat, jadi kumohon kita saling menjaga, saling memberi peringatan dan tausiah agar tujuan pernikahan ini sesuai dengan yang kita harapkan. Terakhir aku ingin tulisan blog ini menjadi prasasti cinta kita, yang tertanam jauh dilubuk hati, sehingga jika terjadi goncangan, kita selalu kembali ke komitmen awal pernikahan.

Salam bahagia

Suamimu.

Minggu, 11 November 2012

PERJALANAN WARNET-Q

Memang benar apa kata pepatah, Berakit² ke hulu... berenang² ke tepian... liat nih dua ekor.. :D manusia sedang memamerkan hasil dari usaha WARNETnya dalam satu hari....


Ditengah persaingannya yang cukup ketat dalam usaha penyedia layanan internet masih saja dapat tersenyum,, ga tanggung² lagi senyumannya.. beugh.... :D
dua mahkluk itu terlihat begitu bahagia, walaupun sebenarnya tidak seperti yang terlihat difotonya... wkwkwwk...

Ycah itu foto salah satu petani WARNET yang masih bertahan, dulunya didaerah kita masih jarang warnet, dan pada saat itu usaha warnet sangatlah menjanjikan.... saat ini pun sebenarnya masih menjanjikan, tentunya dengan kesabaran yang super banget.. kita harapkan dari usaha ini dapat memenuhi kebutuhan sehari²,, malah kalo bisa lebih banget ... hehehehehe.... :P
hingga tiba saat itu bermunculan warnet² yang tumbuh bagai jamur, hanya dengan berjalan kaki saja kita dapat dengan mudah menemukan warnet.... waktu itu memang sedang demam²nya facebook.. dari kalangan anak² kecil hingga orang tua semuanya demam facebook.  bisa agan² bayangin kan kakek² maen facebook.. hehe.....
Tapi semenjak banyaknya bermunculan warnet², persaingan jadi semakin panas.. (kompor kali panas) 
otomatis jadi berkurang...

Tapi untuk menambah penghasilan selain menyewakan akses internet, juga mengadakan penjualan minuman dingin, kopi, rokok.
( walhasil ada untungnya juga bagi operator warnet bisa mengurangi pengeluaran, coz ga beli kopi, minuman, rokok di luar ). napa ga dari dulu yach, kata mpo NORI mah " WAH GA KEPIKIRAN YACH "...{^_@}

Selain itu juga dg bekal pengetahuan, kami melayani kursus internet, jaringan, dan kursus komputer bagi pemula, napa bagi pemula??? coz level pemula adalah level yg cukup menjanjikan.

Demikian cerita dari kami, mungkin pembaca bisa melihat pelajaran-pelajaran penting lainnya di balik kisah ini.

Salam Sukses !!!
Bravo Facebooker N Gamlor !!!

Minggu, 29 Juli 2012

MAAFKANLAH

Sebagai insan yang tercipta dari debu ini, kita selalu saja dapat berbuat kesalahan. Lalu, untuk apa sebetulnya kesalahan yang pernah kita buat ini? Pastinya ia terjadi sebagai bahan introspeksi diri, sebagai perenungan diri hingga kita dapat memperbaiki diri. Ia terjadi agar kita bisa mengelola batin kita untuk berdamai dengan diri kita sendiri maupun orang lain.

Dengan meminta maaf. Ya, dengan meminta maaf jika kesalahan datang dari diri kita. Nah, jika begitu, apakah kita harus menunggu menjadi takdir kita terlebih dahulu untuk sekadar bisa meminta maaf?

Kemudian saat kita menerima permintaan maaf dari sesama kita. Sebesar apa pun kesalahan dari sesama kita. Apakah kita juga harus menunggu takdir terlebih dahulu hanya untuk sekadar memberi maaf untuk sesama kita yang telah bersalah kepada kita?

Taruhlah, bahwa kita telah difitnah, dikecewakan, disakiti, dan banyak lagi bentuk ‘di’ lainnya. Sanggupkah kita memberi maaf?

Kerendahan hati, ketulusan, dan kebijaksanaan adalah kuncinya. Bila kita mau rendah hati maka kita akan selalu berani untuk meminta maaf dan memberi maaf.

Memang butuh proses. Meminta maaf dan memberi maaf dibutuhkan keberanian. Tetapi, jangan biarkan proses itu menjadi lama, karena keegoan kita. Jangan biarkan keberanian kita untuk meminta maaf atau memberi maaf menjadi kian sirna dari diri kita. Jadikanlah hati kita menjadi laut, yang sanggup menampung apa saja dari sungai-sungai yang bermuara pada laut itu. Jadilah seperti bunga teratai yang selalu mau menjadi filter bagi air kolam dengan menjernihkannya selalu.

Jadilah seperti embun pagi yang selalu memberi kesejukan bagi setiap orang. Siapa pun dia! Tak terkecuali bagi orang yang telah bersalah kepada kita. Sebab, embun pagi datang bukan untuk orang-orang benar saja. Melainkan bagi semua orang tanpa pandang bulu.

Sebab, saat kita meminta maaf adalah saat-saat sejuk dan teduh bagi batin kita, juga sesama kita. Demikian pula saat kita sanggup memberi maaf. Kita bagaikan bening dari segala kesejukan yang pernah ada di muka bumi ini!

Urusan kita di sini hanyalah meminta maaf dengan penuh ketulusan jika kita bersalah, dan memberi maaf dengan setulusnya saat kita menerima permintaan maaf dari orang lain. Selebihnya biarkan itu menjadi urusan Tuhan Sang Maha Pemurah. Dari sanalah, kualitas batin kita akan tertempa menjadi sesuatu yang mulia. Sebening embun pagi yang selalu menyatakan cintanya pada bumi, pada setiap harinya tanpa terlewatkan. Berani meluruhkan ego kita yang seluas dan setinggi langit hingga ke akar rumput, demi kedamaian dan kebahagiaan batin kita.

Maka, beranikah kita untuk bahagia saat ini juga?

MAAFKANLAH AKU…!!!

Selasa, 26 Juni 2012

ULTAH PERNIKAHAN


Istriku sayang…

Malam ini, kita memperingati 4 tahun usia pernikahan kita. Tanggal 26 Juni merupakan sebuah perayaan tahunan yang selalu sangat berkesan bagi kita.

Betapa cepat waktu berlalu. Kita telah melalui masa-masa suka dan duka bersama sebagai pasangan suami istri, yang saling melengkapi, saling menggenapi. Kita tersenyum bersama mengingat masa-masa awal kita bertemu pertama kali dulu serta perjalanan kehidupan pernikahan kita yang penuh dinamika.

Setelah ini, kita kembali menjalankan perjalanan cinta kita. Berkaca pada cermin diri dan berjanji bersama untuk tetap berkomitmen memelihara pada janji2 pernikahan kita.

Aku bersyukur kepada Allah SWT menjalani kehidupan pernikahan yang indah bersamamu dan juga anak kita.

Istriku sayang…

Yakinlah, kita akan melewati semuanya dengan penuh keyakinan dan ketegaran. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menjaga kita dalam menempuh perjalanan itu, terutama dalam ekonomi keluarga kita.

Terimakasih telah menjadi istri yang hebat untukku dan ibu yang luar biasa buat anak kita selama ini.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan Yang Ke-4...

Kamis, 03 Mei 2012

ISTRIKU TERSAYANG


Istriku sayang...
Kusadari bahwa ternyata telah terjalin lama kebersamaan yg kita rajut berbalut cita, cinta dan tekad untuk selalu bersama dalam suka maupun duka. Kusadari bahwa ternyata kau adalah anugerah terindah yg mengiringi setiap langkahku menggapai semua angan.

Istriku...Hadirmu telah memberikan kisah, cerita dan goresan bahagia dalam relung-relung kehidupan bersama. Hadirmu telah menjadi percikan semangat untuk terus berusaha agar menjadi yg terbaik.

Terima kasih atas kebersamaan yg telah terjalin selama ini. Semoga kedepannya akan menjadi kebersamaan yg lebih baik lagi. Banyak harapan dan angan yg telah kita gantungkan dalam mimpi kita, masih banyak hal yg ingin kita capai. Semoga hari-hari kedepan kita diberikan jalan yg terbaik oleh Sang Maha Pencipta.

Istriku...Sebuah nasihat lama kuucapkan."Kau tidak sempurna, begitu juga aku merasa tidak sempurna, tapi aku merasa kau adalah istriku yang sempurna bagiku". Tak sedikit diluar sana banyak keluarga yang kurang harmonis. Istriku...Inilah perjalanan hidup.

Sayang, bukankah aku telah katakan padamu bahwa aku memilihmu bukan karena aku diterima atau ditolak oleh sang mantan, sama sekali bukan. Posisimu absolut di dalam hatiku, bukan sebuah perasaan hasil reinkarnasi masa lalu atau sebuah rasa yang tercipta oleh kenangan masa lalu. Sungguh sayang, aku tidak mencintaimu dari status pekerjaanmu! Tidak juga aku membandingkanmu dengan sesuatu yang lain!  bukan itu sayang. Posisimu mutlak seperti saat aku mencintai cinta pertamaku.

Sayang, aku harap kamu mengerti…

Sungguh sayang, statusmu yg menjadi istriku merupakan nilai tambah bagiku, walau kamu terlalu sering marah, dendam. Aku amat sangat mengerti sayang.

Tuhan menciptakan rasa cinta dihatiku, maka dia juga menghiasinya dengan api cemburu. Tuhan menciptakan apa yang disebut emosi dan dia menganugerahi dengan setitik kemarahan. Sungguh sayang, aku bukan robot yang diciptakan Tuhan. Aku adalah makhluknya yang memiliki segala kelemahan. Maka tolong jangan desak aku dalam melakukan kesalahan dalam ekonomi, walaupun aku telah merasa dan sadar sesadar-sadarnya. Semua itu diluar dugaan aku.

Sayang, kapan engkau akan mengerti aku?

Memang aku pernah melakukan kesalahan dalam menggunakan uang sebelumnya, walaupun engkau mengetahuinya yang membuatmu awal ragu akan menggunakan uang tersebut. Sayang…Hanya dirimu satu-satunya wanita yang mampu menumbuhkan semangat baru dalam diriku untuk terus berusaha dalam memperbaiki ekonomi keluarga, untuk tidak berkata putus asa.

Sungguh sayang, saat itu aku amat sangat bersalah. Namun kehilangan dirimu akan terasa amat menyakitkan, lebih menyakitkan daripada kehilangan bisnis aku.

Sayang…Tolong kuatkan dirimu dalam menghadapi musibah ini. Maafkan jika aku telah membuatmu terlalu kecewa.

Sayang, mengapa aku menyuruhmu untuk bersabar dalam menghadapi musibah itu?

Sungguh, aku ingin terus berusaha dan membuktikan bahwa kita akan sukses. Bagiku engkau adalah istriku yg selalu memberi semangat.

Sayang, memang musibah mampu membuyarkan segalanya, tapi yg paling penting adalah menyikapi musibah itu.

Terima kasih untuk segalanya selama ini. Namun yakinlah, aku mencintaimu hingga batas waktu yang tak mampu aku hitung. Mungkin hingga aku menembuskan nafas terakhirku.

Konsekuensi cinta adalah rasa pahit getir yang harus kita rasakan dan jalani...

Untuk istriku tersayang....

Semoga dengan ungkapan aku ini…

Untuk itu rasanya kita perlu menyegarkan kembali tujuan kita dalam menikah yaitu peneguhan janji sepasang suami istri untuk saling mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka dan duka. Melalui kesadaran tersebut, apapun kondisi rumah tangga yg kita jalani akan menemukan suatu solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan berlandaskan kasih sayang ketika menghadapai sebuah masalah sebenarnya merupakan salah satu kunci keharmonisan rumah tangga. Harta dalam rumah tangga bukanlah terletak dari banyaknya tumpukan materi dan harta yg dimiliki suatu keluarga, namun dari rasa kasih sayang dan cinta pasangan suami istri yg terdapat dalam keluarga tersebut.

Rabu, 02 Mei 2012

SI KECIL


Dengan kecintaannya pada seorang Anak, siapa seh yang nggak sayang sama Anak, dan selain itu aku terinspirasi buat diriku juga semoga aku bisa menjadi Ayah yang baik buat anak-anakku…









Setiap anak adalah Unik, setiap Anak adalah Bintang, kalimat yang harus kita sadari bahwa kita tidak boleh menyamaratakan setiap anak....setiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.





Kamis, 26 April 2012

SOSOK


Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan. Bahkan tampilan fisiknya boleh disebut kusut. Gondrong sebahunya pasti hanya sesekali disisir dengan jemari tangannya. Dan ketika hidungku hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya, tak ada yang bisa tertangkap selain aroma keringatnya yang berbaur dengan bau kerak nikotin yang sangat menyengat. Ia laki-laki yang selalu berasap.
Ia juga susah dimasukkan ke dalam kelompok laki-laki supel yang gampang akrab. Bahkan aku baru bisa bercakap-cakap dengannya dalam arti yang sesungguhnya setelah nyaris putus asa. Hari pertama, aku hanya mendapatkan senyuman hambarnya. Aku belum mendapatkan sedikit pun alasan untuk tertarik padanya. Hari kedua, kami baru berjabat tangan, dan kusebut namaku, dan ia sebut namanya. 
Tetapi kekecewaanku lebih dari sekadar terobati ketika tiba-tiba aku melihat dia seorang yang selama ini aku belum ketahui. Tiba-tiba aku melihat auranya menjadi sedemikian cemerlang. Ia menjadi sangat menarik, bahkan sangat merangsang! Aku pun kasmaran. Benar sekali kata teman2ku, bahwa bagian tubuh paling seksi itu adalah otak!

Hari kelima, waktu libur, aku sudah menjadi akrab dengannya. Aku mengajaknya jalan-jalan keliling kota, ternyata dia cuma mengiyakan saja. Dari sorot matanya aku tahu betul bahwa diam-diam ia pun mengagumiku, tetapi sedikit kecewa. Aku ingin ia bilang aku cantik. Ah!
Lalu kami berdiskusi sambil makan, minum, dan sebentar kemudian ia menjadi laki-laki berasap. Rokoknya sambung-menyambung. Tetapi anehnya, aku makin kerasan berada di dekatnya. Waktu pun seperti makin bersicepat. Hanya tinggal satu hari satu malam kesempatan dekat dengannya yang sangat menyenangkan ini. 
"Setelah ini inginmu masuk ke ruang apa?" tanyaku tiba-tiba, dan aku pun kaget sendiri, membayangkan dia tahu persis apa motivasi pertanyaan itu.

"Sebenarnya aku sudah sangat jenuh. Mereka hanya mengulang-ulang kalimat-kalimat lama. Persoalan-persoalan lama. Lagu lama. Aku sih pengin jalan-jalan saja. Esok sudah hari terakhir". 

"Jika aku ingin memberimu tanda mata, apa yang kau inginkan?" demikian pertanyaannya, sangat mengejutkanku! Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah jawaban spontanku, "Cincin!"

"Oh, ya?"
"Tapi bukan cincin emas. Aku menginginkan sebentuk cincin perak. Kau mau membelikannya untukku? Lalu, sebagai kenang-kenangan dariku, apa yang sebaiknya kubeli untukmu?"
"Cincin."
"Ha?"
"Aku sudah punya cincin emas, aku juga ingin punya cincin perak, yang di lingkar dalamnya terukir namamu."

*****
Keesokan harinya…

Kemudian tibalah saat yang menyedihkan itu. Acara berakhir, dan aku harus berpisah dengannya. 
Di alun2 yg dipenuhi hanya dengan Bis luragung Jaya kulihat matanya berkaca-kaca. Sayang, aku harus menaiki bis. Ada keharuan yang mendesak-desak ketika kami saling melambaikan tangan. Sama-sama melambaikan tangan kiri, sekalian untuk saling meyakinkan bahwa kami memakai cincin bernama itu di jari manis kami. Aku yakin dia tidak sedang berbasa-basi. Seperti aku, tidak sedang berbasa-basi. Kini, aku sedang melayang-layang menyibak gugusan awan, lalu menukik tajam, bagai tersedot mulut jurang tanpa dasar itu: cinta! 
Berlama-lama aku memandangi sebentuk cincin yang melingkar di jari manisku ini. Lalu kulepas, kupandangi deretan huruf di lingkar dalamnya, sebelum kemudian kupakai lagi, kulepas lagi, kupakai lagi… Pikiran dan perasaanku menjadi sangat sibuk. Seolah aku sudah tidak kuasa mengendalikan diri.

"Thing, thung, thing…."
Ouw! Itu suara ponselku jika menerima SMS.
"Aku mulai gelisah, cemas, dan merasa kesepian. Aku merindukanmu!"

"Oh, aku juga."
"Aku yakin, aku sangat mencintaimu."
"Rasanya, aku juga."
"Oh, ya? Kita menikah saja, ya?"
"Hm, secepat ini kaubuat keputusan? Aku takut kau sedang mabuk."
"Mabuk? Aku tak suka minum."
"Mabuk asmara, maksudku."
"Ah, percayalah padaku."
"Aku percaya. Tetapi kapan kita akan menikah?"
"Sekarang juga!"
"Ha…? Sekarang…?"
"Ya. Kunikahi kau dengan segenap cintaku. Tak sabar lagi aku untuk memanggilmu sebagai istriku."
"Ya, kuterima cintamu. Aku bersedia menjadi istrimu, suamiku!"
"Oh, istriku….!"
"Ya, suamiku…!"
"Chpmshshmmmm…..!"
"Mmmmuach…!"

"Saat pertama melihat tampangnya, tak sedikit pun aku menduga bakal mengalami kecelakaan ini: jatuh cinta! Ia tidak tampan…."***